Minggu, 13 Januari 2013

sejarah kerajaan taanjung pura (bagian 1)



Apa kabar Sahabat?
Semoga selalu dalam limpahan rahmat dan berkah Allah SWT.

Sahabat,
Pada postingan saya hari ini dan seterusnya secara bersambung, saya akan bercerita tentang sejarah Kesultanan Tanjung Pura yang pernah mencapai masa kejayaannya pada beberapa abad silam. Spesial buat teman-teman yang merupakan putra daerah Ketapang tentu harus tahu donk sejarah di kampung halamannya sendiri. Nah, buat teman-teman yang bukan ‘pribumi’, informasi yang saya narasikan ini tentu sangat berguna untuk menambah pengetahuan akan khazanah kebudayaan Indonesia. Adapun sumber cerita yang tertulis pada postingan ini adalah dari buku Cerita Sejarah Tanjung Pura, disusun oleh Bapak M. Sardi D. Has, diterbitkan oleh Yayasan Sulthan Zainuddin I Ketapang.

Sejarah Kesultanan Tanjung Pura kita mulai dari kedatangan nenek moyang yang bisa dikatakan ‘cikal-bakal’ penduduk pribumi Ketapang yang biasa dijuluki juga ‘Tanah Kayong’.
Al-Kisah, dahulu kala di mana Kuala Sungai Pawan masih berada di sekitar Desa Tanjung Pasar, mendaratlah pendatang pertama ke wilayah ini. Rombongan ini dipimpin oleh Demong Tuk Upui. Mereka bermukim di Natai Kemuning yang sekarang merupakan sebuah Munguk atau istilah setempat disebut Natai yang terletak di sebelah Hilir Desa Ulak Medang. Inilah pemukiman kuno yang dipercaya masyarakat setempat, meskipun belum dilakukan penelitian ilmiah.

Rombongan Tuk Upui tersebut diperkirakan berasal dari Indocina. Pekerjaan mereka biasanya berburu, menangkap ikan, mengumpulkan hasil hutan serta berhuma. Mereka berhuma dengan berpindah-pindah tempat, sehingga lama-kelamaan semakin jauh dari Natai Kemuning. Namun Natai Kemuning masih tetap merupakan pusat pemukiman yang dipimpin oleh Tuk Upui dan dilanjutkan oleh keturunannya sebagai Demong.

Pada masa itu hukum perkawinan masih sangat sederhana. Mereka masih boleh kawin sedarah atau adik-beradik. Hal tersebut mungkin karena pertimbangan aspek geografis karena di antara mereka berladang jauh dari pemukiman, sehingga mereka hidup terpisah dari kelompoknya. Mereka hanya berkelompok beberapa keluarga menyebabkan anak-anaknya tidak bisa bergaul dengan orang lain. Adapun ciri-ciri mereka adalah memakai kendit (benang yang diikat melingkar di pinggang warna hitam). Bahkan hingga kini orang tua kita yang masih sangat tradisional selalu memasang kendit pada bayinya untuk upacara gunting rambut dan lain-lain.

Pasca suksesnya rombongan Tuk Upui, selang beberapa waktu kemudian datang lagi rombongan kedua yang dipimpin oleh Tuk Bubut bersama dua orang saudari perempuannya, yakni Nek Takon dan Nek Doyan. Awalnya mereka mendarat di Sukadana yang pada masa itu masih terpisah dari Daratan Gunung Palung. Selat yang memisahkannya dinamakan Selat Palung yang diperkirakan membentang dari Sungai Melinsum sampai Sungai Rantau Panjang. Sebenarnya dari segi kebudayaan, Tuk Bubut ini lebih maju dari Tuk Upui. Dalam melakukan ekspedisinya, Tuk Bubut dan rombongannya menggunakan rute terbang burung Elang Garuda yang mengarah ke Timur Laut. Bahkan spesies garuda ini sekarang masih hidup bebas di Kepulauan Karimata.

Dalam ekspedisi inilah sebagian anggota rombongan menetap di beberapa tempat yang merupakan cikal-bakal penduduk pribumi di Pedalaman Kalimantan karena itu tidaklah heran kalau Suku Dayak Iban, menurut orang-orang tua di Sambas berasal dari rombongan Tuk Bubut ini.

Ekspedisi Tuk Bubut dan rombongannya kemudian sampai ke Gunung Kinabalu, mereka terus berbelok ke arah Selatan sampai ke Batu Titi yang terletak antara Kendawangan dengan Air Hitam. Rencananya Tuk Bubut akan menyeberang ke Pulau Jawa. Mereka bekerja keras mencoba membuat jembatan dengan menyusun batu-batu. Namun, setelah sekian lama Pulau Jawa tidak tampak juga, maka mereka memutuskan untuk menghentikan proyek jembatan batu tersebut dan kembali ke Sukadana. Inilah kisah Batu Titi, menurut cerita orang tua kita. Wallau’alam.

Pada akhirnya mereka mulai berpencar. Tuk Bubut menuju pemukiman turunan Tuk Upui di Natai Kemuning. Sedangkan adiknya Nek Takon tetap menetap di Sukadana. Adapun Nek Doyan bermukim di suatu daerah yang sudah tidak asing lagi bagi warga Ketapang, yakni Laman Nek Doyan yang sekarang terletak antara Siduk dan Tanah Merah.

Hukum perkawinan juga masih belum sempurna. Artinya mereka masih menghalalkan kawin sedarah. Ciri-ciri rombongan Tuk Bubut adalah bergelang benang, sehingga disebutlah “Zaman Tuk Bubut bergelang benang” untuk menyatakan zaman kuno. Bahkan pada masyarakat Ketapang yang masih memegang tradisi Tuk Bubut tersebut, hingga kini jika ada anak laki-laki yang akan di khitan (Suku Melayu), maka akan dipakaikan gelang benang di tangannya. Sedangkan di lingkungan Suku Dayak diikatkan Kepuak.

Nah, dari ekspedisi Tuk Bubut kemudian diketahui terdapat pemukiman manusia di sekitar Gunung Kinabalu, dihilir Sungai Mahakam, sekitar wilayah Kabupaten Sintang di Natai Kemuning.

Gimana? Sekarang udah dapat pengetahuan baru kan?
Pada postingan saya berikutnya, kita akan kedatangan seorang Pangeran dari Kerajaan Melayu ke Tanah Kayong. Siapakah Pangeran itu? Bagaimana dia bisa sampai ke Tanah Kayong ini? Apa yang kemudian dia lakukan di daerah barunya tersebut?
Insya Allah kita sambung pada postingan  selanjutnya!!!