Apa kabar Sahabat?
Semoga selalu dalam limpahan rahmat dan berkah Allah
SWT.
Sahabat,
Pada postingan saya hari ini dan seterusnya secara
bersambung, saya akan bercerita tentang sejarah Kesultanan Tanjung Pura yang
pernah mencapai masa kejayaannya pada beberapa abad silam. Spesial buat
teman-teman yang merupakan putra daerah Ketapang tentu harus tahu donk sejarah
di kampung halamannya sendiri. Nah, buat teman-teman yang bukan ‘pribumi’,
informasi yang saya narasikan ini tentu sangat berguna untuk menambah
pengetahuan akan khazanah kebudayaan Indonesia. Adapun sumber cerita yang
tertulis pada postingan ini adalah dari buku Cerita Sejarah Tanjung Pura,
disusun oleh Bapak M. Sardi D. Has, diterbitkan oleh Yayasan Sulthan Zainuddin
I Ketapang.
Sejarah Kesultanan Tanjung Pura kita mulai dari
kedatangan nenek moyang yang bisa dikatakan ‘cikal-bakal’ penduduk pribumi
Ketapang yang biasa dijuluki juga ‘Tanah Kayong’.
Al-Kisah, dahulu kala di mana Kuala Sungai Pawan masih
berada di sekitar Desa Tanjung Pasar, mendaratlah pendatang pertama ke wilayah
ini. Rombongan ini dipimpin oleh Demong Tuk Upui. Mereka bermukim di Natai
Kemuning yang sekarang merupakan sebuah Munguk atau istilah setempat disebut
Natai yang terletak di sebelah Hilir Desa Ulak Medang. Inilah pemukiman kuno
yang dipercaya masyarakat setempat, meskipun belum dilakukan penelitian ilmiah.
Rombongan Tuk Upui tersebut diperkirakan berasal dari
Indocina. Pekerjaan mereka biasanya berburu, menangkap ikan, mengumpulkan hasil
hutan serta berhuma. Mereka berhuma dengan berpindah-pindah tempat,
sehingga lama-kelamaan semakin jauh dari Natai Kemuning. Namun Natai Kemuning
masih tetap merupakan pusat pemukiman yang dipimpin oleh Tuk Upui dan
dilanjutkan oleh keturunannya sebagai Demong.
Pada masa itu hukum perkawinan masih sangat sederhana.
Mereka masih boleh kawin sedarah atau adik-beradik. Hal tersebut mungkin karena
pertimbangan aspek geografis karena di antara mereka berladang jauh dari
pemukiman, sehingga mereka hidup terpisah dari kelompoknya. Mereka hanya
berkelompok beberapa keluarga menyebabkan anak-anaknya tidak bisa bergaul
dengan orang lain. Adapun ciri-ciri mereka adalah memakai kendit (benang yang
diikat melingkar di pinggang warna hitam). Bahkan hingga kini orang tua kita
yang masih sangat tradisional selalu memasang kendit pada bayinya untuk upacara
gunting rambut dan lain-lain.
Pasca suksesnya rombongan Tuk Upui, selang beberapa
waktu kemudian datang lagi rombongan kedua yang dipimpin oleh Tuk Bubut bersama
dua orang saudari perempuannya, yakni Nek Takon dan Nek Doyan. Awalnya mereka
mendarat di Sukadana yang pada masa itu masih terpisah dari Daratan Gunung
Palung. Selat yang memisahkannya dinamakan Selat Palung yang diperkirakan
membentang dari Sungai Melinsum sampai Sungai Rantau Panjang. Sebenarnya dari
segi kebudayaan, Tuk Bubut ini lebih maju dari Tuk Upui. Dalam melakukan
ekspedisinya, Tuk Bubut dan rombongannya menggunakan rute terbang burung Elang
Garuda yang mengarah ke Timur Laut. Bahkan spesies garuda ini sekarang masih hidup
bebas di Kepulauan Karimata.
Dalam ekspedisi inilah sebagian anggota rombongan
menetap di beberapa tempat yang merupakan cikal-bakal penduduk pribumi di
Pedalaman Kalimantan karena itu tidaklah heran kalau Suku Dayak Iban, menurut
orang-orang tua di Sambas berasal dari rombongan Tuk Bubut ini.
Ekspedisi Tuk Bubut dan rombongannya kemudian sampai
ke Gunung Kinabalu, mereka terus berbelok ke arah Selatan sampai ke Batu Titi
yang terletak antara Kendawangan dengan Air Hitam. Rencananya Tuk Bubut akan
menyeberang ke Pulau Jawa. Mereka bekerja keras mencoba membuat jembatan dengan
menyusun batu-batu. Namun, setelah sekian lama Pulau Jawa tidak tampak juga,
maka mereka memutuskan untuk menghentikan proyek jembatan batu tersebut dan
kembali ke Sukadana. Inilah kisah Batu Titi, menurut cerita orang tua kita.
Wallau’alam.
Pada akhirnya mereka mulai berpencar. Tuk Bubut menuju
pemukiman turunan Tuk Upui di Natai Kemuning. Sedangkan adiknya Nek Takon tetap
menetap di Sukadana. Adapun Nek Doyan bermukim di suatu daerah yang sudah tidak
asing lagi bagi warga Ketapang, yakni Laman Nek Doyan yang sekarang terletak
antara Siduk dan Tanah Merah.
Hukum perkawinan juga masih belum sempurna. Artinya
mereka masih menghalalkan kawin sedarah. Ciri-ciri rombongan Tuk Bubut adalah
bergelang benang, sehingga disebutlah “Zaman Tuk Bubut bergelang benang” untuk
menyatakan zaman kuno. Bahkan pada masyarakat Ketapang yang masih memegang
tradisi Tuk Bubut tersebut, hingga kini jika ada anak laki-laki yang akan di
khitan (Suku Melayu), maka akan dipakaikan gelang benang di tangannya.
Sedangkan di lingkungan Suku Dayak diikatkan Kepuak.
Nah, dari ekspedisi Tuk Bubut kemudian diketahui
terdapat pemukiman manusia di sekitar Gunung Kinabalu, dihilir Sungai Mahakam,
sekitar wilayah Kabupaten Sintang di Natai Kemuning.
Gimana? Sekarang udah dapat pengetahuan baru kan?
Pada postingan saya berikutnya, kita akan kedatangan
seorang Pangeran dari Kerajaan Melayu ke Tanah Kayong. Siapakah Pangeran itu?
Bagaimana dia bisa sampai ke Tanah Kayong ini? Apa yang kemudian dia lakukan di
daerah barunya tersebut?
Insya Allah kita sambung pada postingan selanjutnya!!!